Trending News

Home » Berita » Kabar Terbaru Yayasan Amalillah

Kabar Terbaru Yayasan Amalillah

Logo Yayasan AmalillahAnda pernah mendengar nama Yayasan Amalillah ini? Yayasan Amalillah didirikan 15 tahun yang lalu, tepatnya pada 27 Juli 1998 berdomisili di Jati Makmur, Jawa Barat dan diketuai oleh Raden Aiyoun Restu Adi Ningrat. Yayasan Amalillah telah cukup lama eksis di Indonesia dengan misi untuk menciptakan dan menumbuhkan kesejahteraan sosial di Indonesia.

Yayasan Amalillah dikenal menawarkan program yang menggiurkan kepada masyarakat terkait dengan pencairan harta karun senilai 420 triliun milik Soekarno, presiden pertama RI. Hanya saja, untuk dapat menikmati pembagian hasil harta karun tersebut, setiap anggota Yayasan Amalillah (disebut makmum) diwajibkan untuk menyetorkan sejumlah uang pangkal kepada para pengurus Yayasan Amalillah.

Dengan modus mengusung isu pembebasan kemiskinan melalui pembagian harta karun tersebut, Yayasan Amalillah berhasil menarik minat masyarakat. Banyak sekali simpatisan Yayasan Amalillah yang datang dari berbagai penjuru daerah dan kota se-Indonesia untuk bergabung dan memperjuangkan permasalahan sosial yang menjadi isu kemanusian,  seperti nasib para janda, anak yatim serta kaum dhua’afa.

Yayasan Amalillah menawarkan isu yang menyentuh nilai kemanusiaan, sehingga begitu banyak masyarakat yang tertarik bergabung menjadi pengurus dan anggotanya meskipun harus membayar iuran keanggotaan.

Khusus untuk jajaran pengurus Yayasan Amalillah, ditawarkan bonus yang menjanjikan dan mengairahkan, mulai dari tingkat kolektor, donatur, cabang, PPUK, korwil, hingga tingkat pengurus pusat. Kabarnya, bonus yang akan mereka terima bervariasi, tergantung posisinya di struktur pengurus yayasan.

Misalnya, jika seorang kepala cabang dapat membebaskan satu orang anak yatim piatu atau janda, maka ia akan mendapatkan bonus dari ketua umum Yayasan Amalillah Raden Aiyoun Restu Adi Ningrat sebesar Rp.2.500.000.000. Bonus ini akan dikalikan dengan jumlah anak yatim piatu atau janda yang bisa dibebaskannya.

Hanya saja, untuk bisa membebaskan seorang anak yatim misalnya, seorang anggota atau pengurus Yayasan Amalillah harus menyetorkan uang ke Yayasan Amalillah melalu pimpinan cabang dalam jumlah yang bervariasi, mulai dari Rp.5000 sampai 25.000 per orang.

Penipuan oleh Yayasan Amalillah

Kehadiran Yayasan Amalillah ini memang di saat kondisi yang tepat. Di tengah masyarakat yang telah tertular virus ingin cepat kaya, mereka direkrut dan telah dicuci otaknya sehingga mau berbuat apa saja untuk kepentingan Yayasan Amalillah.

Dalam usahanya mengumpulkan dana, setiap orang yang berminat cukup menyetorkan uang sebesar Rp25 ribu per orang sebagai biaya administrasi dan pada saatnya nanti akan memperoleh hibah dana revolusi Bung Karno yang disimpan di luar negeri dan akan dibayarkan melalui Bank Indonesia.

Menurut pengakuan seorang pengurus Yayasan Amalillah yang telah membelot, kepercayaan mereka tumbuh karena ketika di Jakarta, mereka di inapkan di hotel berbintang dan kepada mereka diperlihatkan uang dalam jumlah besar dalam beberapa container. Uang ini adalah sebagaian saja dari sejumlah besar uang Bung Karno yang akan dihibahkan kepada rakyat miskin di Indonesia.

Dalam upaya mengelabui para calon korbannya, para pengurus Yayasan Amalillah tidak jarang mencatut nama-nama besar yang sudah terkenal di tanah air, apakah itu nama tokoh, nama lembaga keuangan, dan nama-nama yang lainnya, salah satunya adalah Bank Indonesia.

Yayasan Amalillah menyatakan bahwa uang hibah dana revolusi Bung Karno yang berasal dari pencairan harta karunnya senilai 420 triliun itu akan ditransfer ke rekening setiap donatur (anggota) Yayasan Amalillah. Ternyata, klaim ini adalah bohong sama sekali. Hal ini secara terang-terangan telah dibantah oleh Bank Indonesia (BI). BI menegaskan bahwa mereka tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Yayasan Amalillah.

Hampir setiap tahun ketika menjelang lebaran tiba, berbondong-bondong masyarakat dari berbagai daerah datang berkerumun bahkan sampai menyewa rumah warga, mendirikan tenda-tenda di sekitar rumah ketua atau pengurus yayasan ini. Mereka datang menagih janji, menanti pembayaran dana hibah revolusi Bung Karno yang dijanjikan akan dibayarkan menjelang hari lebaran tiba.

Seperti telah di duga, Yayasan Amalillah tidak pernah menepati janjinya. Dan para korban penipuan ini kembali dengan tangan hampa.

Sekarang, kiprah Yayasan Amalillah ini nyaris telah hilang gaungnya, namun luka yang ditimbulkannya akan selalu dikenang masyarakat kecil sepanjang masa.

Waspadalah!

Komentar untuk berita: Kabar Terbaru Yayasan Amalillah

Cream Pemutih Wajah Yashodara